oleh Ade Machnun Saputra, M.Psi
Resensi Buku The Road Less Stupid – Keith J. Cunningham
Dalam dunia yang serba cepat, di mana keputusan bisnis sering diambil dalam tekanan waktu dan emosi, buku The Road Less Stupid karya Keith J. Cunningham hadir sebagai jeda spiritual bagi para pemimpin dan pebisnis. Buku ini tidak hanya mengajarkan cara berpikir lebih cerdas, tetapi juga bagaimana menghindari keputusan yang “bodoh”—atau dalam istilah Cunningham, dumb tax, pajak kebodohan yang sering kita bayar karena tidak berpikir cukup dalam sebelum bertindak.
Sebagai seorang ilmuan psikologi dan pemandu bakat, saya menemukan buku ini bukan sekadar bacaan bisnis, melainkan refleksi psiko-spiritual tentang cara manusia berpikir, membuat keputusan, dan belajar dari kesalahan. Di antara teori ekonomi dan strategi manajemen, terselip pelajaran mendalam tentang kesadaran diri (self-awareness) — sesuatu yang menjadi inti dalam setiap proses terapi dan pengembangan diri yang saya jalankan.
Jalan yang Lebih Sulit: Berpikir Sebelum Bertindak
Cunningham membuka bukunya dengan pengakuan yang jujur: ia telah membayar “pajak kebodohan” bernilai jutaan dolar. Ia bukan gagal karena bodoh, tetapi karena enggan berpikir. Baginya, bisnis adalah olahraga intelektual, dan kemenangan tidak ditentukan oleh keberuntungan, tetapi oleh disiplin berpikir jernih.
Sebagai seorang yang bergelut di dunia grafologi dan psikoanalisis, saya melihat kesamaan antara konsep Thinking Time Cunningham dan proses terapi analitik. Dalam sesi terapi, klien diajak berhenti dari rutinitas untuk menyadari pola pikir bawah sadarnya sebelum membuat keputusan baru. Begitu pula Cunningham: ia menekankan pentingnya menyediakan waktu rutin hanya untuk berpikir — bukan bekerja, bukan bereaksi, tetapi berpikir secara sistematis.
Dalam dunia pendidikan dan bisnis, konsep ini relevan sekali. Betapa sering guru, pengusaha, atau bahkan orang tua mengambil keputusan karena panik, takut, atau sekadar ingin cepat. Padahal, seperti dikatakan Cunningham, “Ketika emosi naik, kecerdasan turun.”
Lima Disiplin Berpikir: Terapi untuk Keputusan
Cunningham memperkenalkan lima disiplin inti dalam Thinking Time:
- Menemukan pertanyaan yang belum diajukan.
- Memisahkan masalah dari gejalanya.
- Memeriksa asumsi yang belum diuji.
- Memikirkan konsekuensi tingkat kedua.
- Menciptakan mesin (sistem) yang bisa dijalankan.
Sebagai seorang trainer literasi dan numerasi yang aktif di program Merdeka Gagap Hitung, saya melihat prinsip ini bisa diterapkan langsung dalam dunia pendidikan. Anak-anak sering gagal bukan karena tidak pintar, tapi karena sistem yang mereka jalani tidak “dipikirkan” dengan benar. Guru dan lembaga pendidikan perlu waktu Thinking Time untuk meninjau ulang: apakah yang kita anggap “masalah” (seperti rendahnya nilai matematika) bukan sebenarnya gejala dari sistem belajar yang salah?
Begitu juga dalam bisnis dan kehidupan, banyak orang mencoba memperbaiki “gejala” — seperti menambah promosi saat penjualan turun — tanpa pernah menelusuri akar penyebabnya. Pendekatan ini selaras dengan prinsip terapi psikoanalisis: menyembuhkan sebab, bukan gejala.
Empat Topi: Mengelola Diri dalam Peran yang Berbeda
Cunningham juga membedakan empat peran penting dalam bisnis: Artist (pencipta), Operator (pelaksana), Owner (pemilik), dan Board (penasehat/investor).
Setiap peran memiliki pola pikir berbeda. Kegagalan sering muncul ketika seseorang memakai topi yang salah — misalnya, berpikir seperti “artist” ketika seharusnya bertindak sebagai “board.”
Sebagai wirausahawan Baby Adha Rental dan dosen di UIN Surakarta, saya sering menghadapi dilema serupa. Ada saatnya saya harus kreatif menciptakan ide (Artist), ada saatnya harus mengatur operasional (Operator), namun di saat lain saya perlu mengambil jarak dan melihat usaha ini secara strategis (Owner/Board). Buku ini menegaskan bahwa keseimbangan antara empat peran tersebut adalah bentuk kematangan berpikir.
Dari Bisnis ke Spiritualitas
Bagi saya, buku ini lebih dari sekadar panduan manajemen; ia adalah ajakan untuk beribadah dengan akal. Dalam Islam, berpikir (tafakkur) adalah perintah Ilahi — dan Cunningham, meski berbicara dalam bahasa bisnis Barat, sesungguhnya sedang mengajarkan tafakkur dalam konteks modern.
Ketika ia menulis bahwa “business is an intellectual sport,” saya membacanya sebagai refleksi dari QS. Al-Mulk: 10, “And they will say, if only we had listened or reasoned, we would not be among the companions of the Blaze.”
Artinya, kebodohan bukanlah karena kurang pengetahuan, melainkan karena enggan menggunakan akal sehat.
Buku ini mengajak kita memperlambat langkah agar tidak tersesat. Seperti halnya dalam dunia terapi dan pendidikan, kadang yang paling dibutuhkan bukan kecepatan, tapi kesadaran penuh dalam mengambil keputusan.
Relevansi untuk Dunia Pendidikan dan Psikologi
Dalam konteks profesi saya, The Road Less Stupid memberi refleksi penting: berpikir sistematis adalah keterampilan hidup (life skill) yang harus ditanamkan sejak dini. Anak-anak perlu belajar bukan hanya apa yang harus dipikirkan, tetapi bagaimana cara berpikir yang benar.
Begitu juga dalam konteks klinik Gagap Hitung, saya melihat betapa pentingnya pendekatan seperti Thinking Time bagi para pendidik — agar mereka tidak sekadar reaktif terhadap hasil, tapi reflektif terhadap proses.
Cunningham juga menegaskan bahwa optimisme berlebihan tanpa perhitungan adalah bentuk kebodohan baru. Di era media sosial, ketika banyak orang tergoda dengan janji “sukses instan,” pesan ini menjadi sangat relevan. Ia seolah berkata: berhentilah mencari “rahasia sukses,” dan mulailah melatih otot berpikir yang jarang digunakan.
Kesimpulan: Jalan Sunyi yang Menghidupkan
Sebagai seorang yang menekuni pendidikan, psikologi, dan spiritualitas, saya melihat The Road Less Stupid bukan sekadar buku tentang bisnis, melainkan buku tentang kebijaksanaan hidup.
Ia mengingatkan kita bahwa keberhasilan sejati tidak ditentukan oleh banyaknya ide, melainkan oleh kemampuan untuk menahan diri dari keputusan bodoh.
Dalam bahasa yang lebih religius, Cunningham mengajak kita untuk berhenti menjadi hamba kecepatan, dan kembali menjadi hamba kesadaran.
Sebab pada akhirnya, berpikir bukan hanya alat untuk mencari untung — tapi juga cara untuk menghormati karunia terbesar Tuhan: akal.
Resensi oleh:
Ade Machnun Saputra, M.Psi
Psikoterapis Psikoanalis | Pemandu Bakat & Trainer Merdeka Gagap Hitung | Alumni PPMI Assalaam