Kepemimpinan Teknofiskal dan Mentalisasi: Membaca Purbaya Yudhi Sadewa melalui Kacamata Peter Fonagy

Pendahuluan: Rasionalitas tanpa Afek

Kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa, sebagaimana diuraikan dalam analisis kebijakan fiskal dan komunikasi publiknya, menampilkan sosok teknokrat dengan rasionalitas tinggi dan kepercayaan kuat pada struktur logis sistem ekonomi. Namun, di balik keberanian ekonominya, muncul pola komunikasi publik yang kerap memicu resistensi afektif.
Dikotomi ini — antara kejernihan berpikir dan ketidakselarasan emosional — membawa kita pada pertanyaan: bagaimana kapasitas mentalisasi berperan dalam gaya kepemimpinannya?


Konsep Mentalisasi Menurut Fonagy

Peter Fonagy (1991, 2002, 2018) memperkenalkan konsep mentalisasi sebagai kemampuan untuk memahami perilaku diri sendiri dan orang lain dalam kerangka keadaan mental: pikiran, perasaan, niat, dan keyakinan.
Dalam arti klinis, mentalisasi adalah fungsi reflektif ego yang memungkinkan seseorang melihat pikiran sebagai representasi — bukan fakta. Ia lahir dari pengalaman keterikatan aman (secure attachment) dan berkembang melalui mirroring empatik dari figur signifikan.

Ketika seseorang mampu mentalisasi dengan baik, ia:

  • Membedakan antara realitas dalam (pikiran, asumsi, fantasi) dan realitas luar (situasi objektif).
  • Menyadari bahwa orang lain memiliki pikiran dan emosi yang berbeda.
  • Dapat menahan impuls untuk bereaksi secara segera, dan memilih merespons dengan pemahaman.

Sebaliknya, kegagalan dalam mentalisasi (Fonagy & Target, 1997) menyebabkan seseorang beroperasi dalam mode “pretend” atau “teleologis”, di mana pikiran dan perasaan tidak diperlakukan sebagai realitas psikis yang kompleks, melainkan sebagai fakta atau tindakan langsung. Inilah titik masuk analisis terhadap fenomena komunikasi publik Purbaya.


Analisis: Mentalisasi dalam Kebijakan dan Komunikasi

Dalam kebijakan fiskal — seperti relokasi dana SAL Rp200 triliun yang dijuluki “Efek Purbaya” — kita melihat kapasitas mentalisasi kognitif yang sangat matang. Ia mampu mengantisipasi konsekuensi sistemik, menimbang risiko ekonomi, dan memprediksi reaksi pasar. Ini menunjukkan fungsi reflektif tinggi dalam domain kognitif.

Namun, dalam komunikasi publik, terutama pada pernyataan kontroversial “17+8 Tuntutan Rakyat hanya suara sebagian kecil rakyat”, kapasitas mentalisasi tampak mengalami collapse. Purbaya tampak gagal memandang bahwa pernyataan ekonomis-rasional dapat dimaknai secara emosional oleh publik.
Ia melihat opini publik sebagai data sosial alih-alih representasi afektif kolektif. Dengan kata lain, ia mentalisasi isi pikiran tetapi tidak mentalisasi afek orang lain — fenomena yang Fonagy sebut sebagai partial mentalization.


Kegagalan Mentalisasi Afektif: Antara Sistem dan Simbol

Menurut Fonagy, kegagalan mentalisasi sering muncul pada individu dengan dominasi mode kognitif dan kontrol superego tinggi, yang cenderung menafsirkan dunia dalam logika sebab-akibat, bukan dalam logika niat dan emosi.
Dalam kasus Purbaya, orientasi pada sistem fiskal menciptakan ilusi bahwa kejelasan rasional cukup untuk menenangkan massa. Ia gagal membaca bahwa emosi sosial beroperasi dalam register simbolik, bukan dalam logika ekonomi.

Dengan demikian, kegagalan komunikasi publiknya dapat dilihat bukan sebagai kekurangan intelektual, melainkan sebagai defisit mentalisasi afektif — ketidakmampuan temporer untuk “melihat dari mata orang lain” (seeing from the mind of the other).


Pemulihan Melalui Refleksi dan Permintaan Maaf

Ketika Purbaya kemudian meminta maaf dan menjelaskan maksud pernyataannya, hal ini menunjukkan pemulihan fungsi reflektif. Ia mampu melakukan meta-cognition atas dirinya sendiri — menilai bahwa tindakan sebelumnya menimbulkan efek afektif negatif, lalu menyesuaikannya.
Dalam kerangka Fonagy, ini merupakan re-entry ke mode mentalizing: kemampuan untuk menahan rasa malu narsistik dan melakukan koreksi dengan tetap menjaga identitas diri.

Proses ini juga memperlihatkan bahwa mentalisasi bukanlah keadaan tetap, melainkan fluktuatif, tergantung pada tekanan afektif, konteks sosial, dan beban simbolik peran publik.


Kepemimpinan, Transferensi Sosial, dan Mentalisasi Kolektif

Fonagy juga mengembangkan gagasan social mentalization — kapasitas kolektif untuk memahami keadaan mental orang lain dalam konteks sosial-politik. Dalam ruang publik, pemimpin bukan hanya “subjek individu” tetapi juga “objek transferensi” bagi kolektif.
Reaksi emosional publik terhadap Purbaya — antara kagum pada keberaniannya dan marah pada pernyataannya — menunjukkan dinamika transferensi sosial: publik memproyeksikan figur ayah-otoritatif ke dalam diri seorang menteri.

Jika pemimpin tidak mampu mem-mentalisasi proyeksi itu, maka hubungan publik menjadi acting out timbal-balik: pemimpin menjadi defensif, publik menjadi reaktif. Sebaliknya, pemimpin yang mampu mentalisasi kolektif dapat menahan impuls pembenaran dan menanggapi dengan refleksi, bukan reaksi.


Dari Teknopolitik ke Psikopolitik: Implikasi Psikoanalitik

Dalam paradigma psikoanalisis kontemporer, terutama aliran relasional dan mentalization-based approach (MBT), kepemimpinan efektif menuntut dua hal:

  1. Kapasitas epistemik tinggi — berpikir sistematis, objektif, mampu mengelola kompleksitas (yang Purbaya miliki).
  2. Kapasitas mentalisasi afektif — membaca dan mengandung emosi publik, menyadari bahwa setiap kebijakan adalah juga intervensi terhadap fantasi sosial (yang masih perlu dikembangkan).

Keseimbangan antara dua kapasitas ini menentukan apakah pemimpin menjadi teknokrat reflektif atau teknokrat narsistik. Fonagy menekankan bahwa reflective functioning tidak hanya penting untuk individu dalam terapi, tetapi juga bagi masyarakat yang dipimpin oleh figur yang dapat mengandung afek kolektif tanpa terjebak dalamnya.


Kesimpulan: Dari Refleksi Diri ke Refleksi Sosial

Kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa mencerminkan dilema klasik antara rasionalitas sistem dan kebutuhan empatik manusia. Ia menunjukkan kapasitas mentalisasi yang tinggi di ranah kognitif, namun menghadapi tantangan dalam mentalisasi afektif publik.
Sebagaimana dikatakan Fonagy, mentalisasi adalah jembatan antara knowing mind dan feeling mind. Di sinilah letak tantangan terbesar bagi pemimpin kontemporer: bukan hanya berpikir dengan benar, tetapi merasakan dengan tepat.


Referensi

  • Fonagy, P., & Target, M. (1997). Attachment and reflective function: Their role in self-organization. Development and Psychopathology, 9(4), 679–700.
  • Fonagy, P., Gergely, G., Jurist, E., & Target, M. (2002). Affect Regulation, Mentalization, and the Development of the Self. New York: Other Press.
  • McWilliams, N. (2011). Psychoanalytic Diagnosis: Understanding Personality Structure in the Clinical Process. The Guilford Press.
  • Bellak, L., & Meyers, B. (1975). Ego Function Assessment and Analysability. International Review of Psycho-Analysis, 2:413–427.
  • LKP Psikoanalisis Indonesia (2022). Fungsi Ego I–III dan 8 Tingkat Organisasi Kepribadian.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top