Stres Itu Cuma Ilusi: Mengapa Humor Adalah Obat Spiritual Paling Kuat

Oleh: Hawkins, penyelaras Ade machnun

Kita semua bicara tentang “stres”. Kita ingin menghilangkannya, melawannya, mengelolanya. Tapi, pernahkah Anda berhenti sejenak untuk bertanya: Apa sebenarnya stres itu?

Jawabannya, seperti yang saya temukan, sangat sederhana dan akan membebaskan Anda.

1. Musik Keras: Stres atau Pesta?

Bayangkan ini: Anda sedang bersemangat, bersiap untuk pesta. Anda menyalakan musik keras-keras, Anda ikut menari di ruang tamu. Musik itu berkontribusi pada kegembiraan dan semangat hidup Anda. Anda menginginkannya.

Sekarang, bayangkan skenario kedua: Anda lelah, baru pulang setelah hari yang panjang dan berat di kantor. Musik keras yang sama persis dari tetangga Anda akan Anda alami sebagai “stres” yang luar biasa.

Apa yang berubah? Bukan musiknya. Musik itu netral. Yang berubah adalah Anda.

Fakta bahwa Anda menginginkan atau tidak menginginkan sesuatu itulah yang menentukan apakah sesuatu itu “penuh stres” atau “penuh sukacita”.

Stres, dengan demikian, adalah formula yang sangat sederhana: Stres adalah perlawanan terhadap apa yang tidak saya inginkan. Titik. Sebaliknya, “tidak stres” hanyalah “mendapatkan apa yang saya inginkan.”

2. Berhenti Melawan Kincir Angin

Masalahnya, selama ini kita pikir “dunia di luar sana” adalah sumber stres. Padahal, sumbernya ada di dalam diri kita sendiri.

Kita bisa menggeser seluruh pengalaman hidup kita hanya dengan mengubah sikap batin kita. Dan salah satu cara tercepat untuk melakukannya adalah dengan “naik lift” ke medan energi yang lebih tinggi.

Saya berbicara tentang medan energi Humor, yang dalam Peta Kesadaran berada di level 550.

Ini adalah kapasitas untuk menertawakan diri sendiri, menertawakan sifat kehidupan itu sendiri. Ini adalah kemampuan untuk melihat komedi kosmik dari itu semua. Para pelawak hebat cenderung berumur panjang karena mereka memegang kehidupan ini dengan ringan; mereka melihatnya dengan kenikmatan.

Orang yang beroperasi dari posisi ini akan membuka koran pagi dan tertawa terbahak-bahak. Bukan tawa sinis, tapi tawa pemahaman. Mereka melihat komedi dari itu semua.

Mereka melihat bagaimana orang-orang (seperti Don Quixote) dengan sia-sia mencoba menyelesaikan masalah di luar sana, padahal mereka sebenarnya sedang melawan proyeksi mereka sendiri. Mereka memproyeksikan sudut pandang negatif mereka sendiri ke dunia, lalu menghabiskan sisa hidup mereka memerangi bayangan yang mereka ciptakan sendiri.

Humor (550) melihat paradoks ini dan menganggapnya lucu.

3. “Santai” Bukan Berarti “Lembek”

Saat Anda mulai memahami ini, Anda secara alami menjadi lebih “santai” (easy going).

Sekarang, banyak orang salah paham. Mereka pikir orang yang “santai” adalah orang yang lembek (pushover), terutama dalam bisnis. Ini adalah kesalahpahaman total.

Sikap santai (Easygoing) bukanlah kelemahan; itu adalah Penerimaan (Acceptance, level 350) dan Kecukupan (Adequacy). Itu adalah Power sejati.

Jika Anda bisa melihat humor dalam hidup, jika Anda merasa cukup dan kokoh di dalam diri Anda, jika Anda sadar bahwa Anda adalah sumber dari cara Anda mengalami hidup… maka Anda dapat menangani hal-hal yang dianggap “sulit” oleh dunia dengan mudah.

Anda bisa menjadi bos, dan jika petugas kebersihan tidak muncul hari itu, itu tidak mengganggu Anda sama sekali. Saat kantor tutup, Anda melepas jas Anda, menggulung lengan kemeja Anda, dan Anda mengambil sapu. Anda menyapunya sendiri.

4. Identitas Sejati Anda: Sang Pengalam

Mengapa itu tidak membuat perbedaan bagi Anda?

Karena “Siapa Saya” (That which I am) tidak terpengaruh oleh semua itu.

Kebenaran sejati Anda adalah: Saya adalah Dia yang mengalami pengalaman.

Di situlah Anda hidup—di dalam kesadaran Anda. Tidak ada bedanya apakah Anda mengelilingi diri Anda dengan pernak-pernik agar terlihat penting, atau apakah Anda menggulung lengan baju dan menyapu kantor sendiri. Siapa Anda sama sekali tidak terpengaruh. Siapa Anda hanya menikmati pengalaman keberadaannya sendiri.

Stres tidak ada dalam posisi ini.

Ketika kita berhenti mengidentifikasi diri kita sebagai “tubuh” (yang berkali-kali jauh dari realitas kita), ketika kita berhenti memberikan kekuatan kita pada “peristiwa di luar sana”, maka kedamaian batin itu muncul.

Anda akhirnya bisa santai. Anda aman. Anda telah melampaui dunia. Hanya dengan mengetahui apa sumber stres itu—yaitu perlawanan internal kita sendiri—sudah membuat kita kebal terhadapnya. Itu memungkinkan kita untuk melihat hidup sebagai ciptaan kita sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top