Psikoanalisis dan Tantangan Memahami Remaja: Dari Fenomena Publik ke Refleksi Pengasuhan

by Ade Machnun – Psikoanalis

Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan oleh berita pembunuhan seorang ibu oleh anak kandungnya sendiri yang masih remaja di Medan. Berita ini memancing emosi banyak orang. Marah, ngeri, takut, dan bingung bercampur jadi satu. Komentar pun bermunculan: menyalahkan anaknya, menyalahkan orang tuanya, menyalahkan game, atau menyalahkan zaman.

Seorang kawan kemudian meminta saya, Ade, seorang psikoanalis, untuk “membedah” kasus ini dari sudut pandang psikoanalisis. Permintaan itu membuat saya berpikir: mungkin ini bukan sekadar soal satu kasus ekstrem, tapi juga kesempatan untuk mengajak kita—terutama para orang tua—melihat lebih dalam, agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Psikoanalisis Tidak Bertanya “Siapa yang Salah?”

Dalam psikoanalisis, pertanyaan utamanya bukan “siapa yang salah?” atau “siapa yang harus dihukum?”. Psikoanalisis justru bertanya: apa yang terjadi di dalam dunia batin seseorang sebelum tindakan itu muncul?

Secara definisi,
psychoanalysis is a research method for understanding the unconscious and its influence in daily life, a healing method for mental disorders, an integrated scientific discipline, an analytical method for culture and society, as well as an ethic of life appreciation.

Dengan kata lain, psikoanalisis adalah cara memahami manusia dengan melihat peran alam bawah sadar—perasaan, pengalaman, dan konflik batin yang sering tidak kita sadari, tapi diam-diam memengaruhi cara kita berpikir, merasa, dan bertindak setiap hari.

Perilaku Ekstrem Jarang Datang Tiba-tiba

Dari kacamata psikoanalisis, tindakan se-ekstrem apa pun hampir tidak pernah muncul secara mendadak. Biasanya ada proses panjang yang sunyi: emosi yang dipendam, ketakutan yang tidak terucap, kemarahan yang tidak punya ruang aman.

Remaja, berbeda dengan orang dewasa, belum memiliki kemampuan penuh untuk mengenali dan mengungkapkan perasaannya. Banyak dari mereka tidak tahu cara berkata, “Aku marah,” “Aku takut,” atau “Aku kewalahan.” Perasaan-perasaan itu akhirnya tidak hilang, tapi menumpuk di dalam, lalu suatu hari keluar lewat cara yang salah.

Psikoanalisis memandang ini bukan sebagai “anak jahat”, melainkan emosi yang tidak punya bahasa.

Kenapa Kita Terlalu Cepat Menyalahkan Game dan Tontonan?

Dalam kasus-kasus seperti ini, game atau tontonan sering dijadikan kambing hitam karena mudah terlihat. Namun psikoanalisis melihat lebih ke dalam. Game jarang menjadi akar masalah, ia lebih sering menjadi pelarian dari konflik batin yang tidak terolah.

Jika kondisi emosi seorang anak cukup stabil, game tetap sekadar hiburan. Tetapi jika emosinya sudah penuh dan tidak tertangani, apa pun—termasuk hal sepele—bisa menjadi pemicu. Fokus berlebihan pada “media” sering membuat kita melewatkan luka yang lebih dalam.

Apa yang Bisa Dipelajari Orang Tua dari Kasus Ini?

Kasus ini memang ekstrem, tapi kegelisahan emosional di baliknya sangat dekat dengan banyak keluarga. Banyak orang tua sebenarnya menghadapi hal serupa dalam bentuk yang lebih kecil: anak yang sering meledak, menarik diri, sulit diajak bicara, atau terlihat “baik-baik saja” tapi terasa jauh.

Psikoanalisis mengajak orang tua untuk mulai bertanya:

  • Apakah anak punya ruang aman untuk mengekspresikan perasaannya?
  • Apakah emosi anak lebih sering ditekan daripada dipahami?
  • Apakah kita lebih cepat menilai perilaku daripada mendengar ceritanya?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan orang tua, tapi untuk membuka pintu pemahaman.

Peran Psikoanalis dan Psikoterapi Psikoanalisis

Di sinilah peran psikoanalis dan psikoterapi psikoanalisis menjadi penting. Psikoterapi psikoanalisis adalah ruang aman bagi anak, remaja, maupun orang dewasa untuk memahami dunia batinnya: perasaan yang dipendam, konflik yang berulang, dan makna di balik reaksinya sendiri.

Terapi ini bukan solusi instan dan bukan tempat menghakimi. Ia adalah proses untuk membantu seseorang mengenali dirinya lebih utuh, sehingga perubahan tidak hanya terjadi di permukaan, tetapi dari dalam.

Bagi orang tua, mengajak anak ke terapi bukan berarti gagal mendidik. Justru sering kali itu tanda kepedulian: bahwa kita tidak ingin anak menanggung beban emosinya sendirian.

Penutup: Dari Reaksi ke Pemahaman

Kasus pembunuhan ini mungkin akan berlalu dari pemberitaan, tapi pertanyaan besarnya tetap: apakah kita mau belajar memahami dunia batin anak-anak kita sebelum tragedi terjadi?

Psikoanalisis tidak menjanjikan hidup tanpa konflik. Namun ia menawarkan sesuatu yang sangat penting: ruang untuk memahami sebelum menghakimi, mendengar sebelum bereaksi, dan mencegah sebelum terlambat.

Jika sebagai orang tua kita mau membuka pikiran dan belajar memahami, banyak luka bisa disembuhkan jauh sebelum berubah menjadi bencana. Dan di situlah, psikoanalisis dan psikoterapi psikoanalisis hadir—bukan untuk menyalahkan, tapi untuk memberi makna dan harapan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top